Perangkat Lunak Bajakan Terinfeksi Malware di Asia Pasifik Cukup Tinggi

Selasa, 10 Oktober 2017 | 11:14
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share

INDOPOS.CO.ID - Semakin banyak perangkat lunak bajakan yang telah menjadi sumber utama infeksi malware berbahaya, terutama yang dijual di online market atau yang unduhan internet. Kerugian dan bahaya sangat besar dan fatal. Baik di tingkat konsumen maupun pada bisnis dan kantor pemerintah. Terbukti dengan berbagai penelitian kasus pelanggaran data secara global.

Dari hasil studi malware terbaru berjudul Cybersecurity Risks from Non-Genuine Software dari Fakultas Teknik National University of Singapore (NUS) fokus meneliti pada risiko infeksi malware pada perangkat lunak dari penggunaan perangkat lunak. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa korelasi antara penggunaan perangkat lunak bajakan dengan risiko infeksi malware di kawasan Asia Pasifik.

Temuan tersebut menyimpulkan,  100 persen situs web yang menyediakan tautan instalasi pada perangkat lunak bajakan akan memaparkan pengguna pada beberapa risiko keamanan. Lalu 92 persen komputer baru yang terpasang dengan perangkat lunak bajakan ditemukan terinfeksi malware berbahaya.

“Kami percaya pentingnya kepatuhan dan perlindungan kekayaan intelektual khususnya pada merek dan Hak Cipta perangkat lunak komputer. Inilah alasan pentingnya berbagi hasil penelitian keamanan siber yang dilakukan NUS kepada khalayak luas, termasuk kepada masyarakat Indonesia. Informasi ini tidak hanya menunjukkan pentingnya menggunakan perangkat lunak asli untuk keuntungan keamanan serta kepatuhan pelaku usaha, namun juga untuk keamanan konsumen secara online,” jelas Justisiari P. Kusumah, Ketua  Masyarakat Indonesia Anti-Pemalsuan (MIAP).

Studi menunjukkan, biaya untuk berinvestasi pada program perangkat lunak asli dan terbaru jauh lebih rendah dibanding kerugian aktual yang dialami karena pencurian data rahasia dan informasi pribadi. Studi juga menunjukkan, biaya untuk berinvestasi pada program perangkat lunak asli dan terbaru jauh lebih rendah dibandingkan dengan kerugian aktual yang dialami karena pencurian data rahasia dan informasi pribadi.

“Kami senantiasa mendorong penyedia layanan keuangan, terutama sektor perbankan untuk menggunakan perangkat lunak asli demi keamanan kegiatan bisnis mereka dan khususnya, untuk memastikan kerahasiaan serta keamanan operasi Tl, rantai pasokan dan informasi bisnis mereka, dan untuk melindungi data pelanggan saat melakukan transaksi melalui fasilitas online banking dan layanan terkait,” jelas Kamil Razak, Kepala Departemen Investigasi untuk Sektor Jasa Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (dew)

Editor : Heryanto
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%